November, Aturan Pengelolaan Bandara Terbit

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera mengeluarkan keputusan menteri (KM) terkait pengelolaan bandar udara oleh badan usaha swasta setelah terpilihnya Menteri Perhubungan yang baru. Dengan begitu, diharapkan aturan menteri sebagai turunan dari UU No 1/2009 tentang Penerbangan tersebut sudah dapat diterbitkan pada bulan depan.
Kepala Biro Hukumdan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Per­hubungan Umar Aris me­ negaskan, keputusan menteri ter­sebut akan mengatur lebih teknis mengenai operasional ke­bandaraan. “Jadi nanti ada dua macam aturan turunan dari UU Penerbangan. Per tama, ada­lah aturan umum soal Badan Usaha Bandar Udara. Kedua akan ada aturan yang khusus un­tuk pengaturan bandara, di mana akan diatur batasan-ba­ tasannya,” jelas dia di Jakarta, Senin (20/10).
Aturan pengelolaan ke­ban­ darudaraan oleh badan usaha ini diperlukan menyusul adanya keinginan dari Lion Group un­ tuk mengoperasikan Bandara Ha­lim Perdanakusuma, yang saat ini masih dikelola oleh PT Ang­kasa Pura II. Namun begitu, aturan pengelolaan operasional ke­bandaraan masih menunggu tanda tangan dari Menteri Per­ hubungan yang baru di bawah Pre­siden Joko Widodo.
Tunggu Aturan
Dalam kesempatanyangsama, Di­rektur Kebandar udaraan Ditjen Perhubungan Udara Ke­menhub Bambang Tjahjono me­ngatakan, kepastian Lion GroupmengoperasikanBandara Halim Perdanakusuma masih me­nunggu aturan turunan ter­ sebut disahkan. Pasalnya, izin pengoperasian Halim masih di­ pegang oleh PT Angkasa Pura II selaku operator bandara.
“Lion Group memang punya hak kelola 21 hektare lahan ter­ masuk terminal, apron, dan par­ kir. Tapi dia harus bikin anak usaha, harusmengajukan se­bagai badan pengelola bandar udara. Setelah dapat izin dan kuat secara hukum, baru bi­sa mengelola Halim,” jelas Bam­bang.
Dia juga menjelaskan, sebe­ nar ­nya Lion Group sudah meng­ajukan badan usaha yang dimaksudmelalui anakusa­hanya, yakni PTAngkasa Trans­portindo Selaras (ATS) sejak Agustus lalu keKemenhub. Na­mun, regulator belum bisa me­ngeluarkan keputusan karena proses hukum dan sertifikasi be­lum semua terpenuhi oleh Lion Group.
“Lion Group sudah meng­aju­ kan badan usaha bandar uda­ ra, tapi belum bisa kami pro­ ses. Karena mereka har us me­nang dahulu di Mahkamah Agung. Lion Group juga se­ dang melengkapi persyaratan lainnya, berupa personel yang ber­sertifikat, peralatan yang bersertifikat, dan SOP (standard operational procedure) yang je­las. (Itudiperlukan) karenakami tidak menyentuh hukum, tapi perizinan bandara,” kata Bam­bang.
Setelah memenuhi per­sya­ ratan, sambungnya, Lion Group harus melakukan pembicaraan res­mi dengan PT Angkasa Pura II yang hingga saat ini masih me­ngelola Halim. Itu agar tidak terjadi sengketa di antara kedua belah pihak.
Belum Bersertifikat
Sebe l umny a , Bamb a ng men­jelaskan kesepakatan pe­ ngelolaan Bandara Halim antara Ditjen Perhubungan Udara dan TNI AU yang ditandatangani pa­da 1997 sudah selesai pada 2002 dan tidak diperpanjang. Se­lanjutnya, pada 2006 Lion Group dan Induk Koperasi TNI AU (Inkopau) membentuk per­ usahaan joint venture PT ATS. Kedua pihak juga bersepakat mengelola aset bandara Halim pada 2006 dan berlaku hingga 25 tahun dan bisa diperpanjang.
“Meskipun kesepakatan ter­ sebut sudah terjadi, PT ATS be­lum bisa mengoperasikan Ban­dara Halim disebabkan belum memiliki sertifikat pe­ nge­lolaan bandara. Selain itu be­lum ada UU No 1/2009 ten­ tang Penerbangan, yang me­ nyebutkan swasta boleh me­ ngelola bandara, sehingga untuk se­mentara pengelolaan Bandara Halim masih dipegang oleh PT Ang­kasa Pura II,” katanya.
Di sisi lain, Bambang me­nga­ takan penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma masih te­tap terbatas, meskipun in­ fras­truktur bandara sudah di­ kembangkan dan daya tampung (ka­pasitas) diperbesar hingga 12 juta penumpang per tahun se­ perti direncanakan Lion Group.
“Halim sekarang memang bi­sa dibuat menjadi bandara umum, tapi tetap terbatas ka­ re­na ada penerbangan TNI AU, latihan militer, private jet, dan pe­nerbangan kepresidenan. Ma­ka solusinya nanti kami akan bangun Bandara Karawang,” pungkas Bambang.
Sebelumnya, Direktur Umum Lion Air Edward mengatakan, ren­cananya Halim akan dikelola oleh ATS dengan komposisi ke­pemilikan 80% Lion Group dan 20% Inkopau dengan masa pe­ngelolaan selama 25 tahun sejak 2006. Kontrak tersebut dapat diperpanjang dan jika kon­traknya habis maka aset ter­sebut akan dikembalikan ke pemerintah atau TNI AU.
“Langkah yang diambil oleh Lion Group ini sudah sesuai hu­kum, berdasarkan pada UU Pe­nerbangan, di mana ada pasal yangmenyebutkan bahwa badan hu­kum Indonesia diperbolehkan mengelola atau sebagai operator ban­dara,” ujar dia.
Sementara itu, Direktur Uta­ ma PT Angkasa Pura (AP) II Tri S Sunoko mengatakan, per­seroan akan menunggu ke­putusan pemerintah terkait pe­ngembangan Bandara Ha­ lim oleh grup Lion. Apalagi, pi­haknya juga belum menerima per­nyataan resmi dari Grup Lion yang berencana me­ngem­ bangkan dan mengambil alih pengelolaan Bandara Halim
“Dulu memang ada pembi­ca­ raan informal denganGrup Lion, tapi masih bersifat tidak se­rius. Tapi intinya hingga saat ini AP II masih mengelola Ha­lim, karena sesuai peraturan, pemerintah yang menunjuk ka­mi sebagai operator Halim,” ujar dia.
Lebih lanjut, kataTri, pihaknya su­dah mengeluarkan banyak investasi untuk pengembangan Ha­lim sehingga harus ada pe­ ngembalian investasi, jika pe­ ngelolaan bandara diserahkan ke Grup Lion. “Investasi sudah pas­ti ada setiap tahunnya un­ tuk pengembangan Bandara Ha­lim. Karena AP II adalah kor­porasi, jadi jelas harus ada per­hitungannya nanti, berapa yang harus dikembalikan ke AP II,” ujar dia.
Investor Daily, Rabu 22 Oktoner 2014, hal. 6

Print Friendly, PDF & Email

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.